Kejutan November

Saya menulis entri blog ini di awal Bulan November, ditemani secangkir kopi diskonan dan cuaca Kota Denpasar yang cukup gloomy dan layak disandingkan dengan Gotham City. Sambil mendengarkan kuliah umum Kwame Anthony Appiah di The Reith Lectures, saya terpikirkan dengan bahasan identitas yang dibahas pada kuliah umum ini. Mistaken Identities, judulnya.

Appiah berbicara bahwa empat elemen; warna kulit, negara asal, kepercayaan, dan budaya, merupakan prinsip identitas yang mendefinisikan, mencirikan, sekaligus membedakan diri kita dengan orang lain. Mengutip langsung Appiah bahwa:

We live in a world where the language of identity pervades both our public and our private lives. We are Muslim and Christian, so we have religious identities. We are English and Scottish, so we have national identities. We are men and women, and so we have gender identities. And we are black and white, so we have racial identities. There is much contention about the boundaries of all of these identities. Not everyone accepts that you have to be a man or a woman; or that you can’t be both an Englishman and a Scot. You can claim to be of no religion or gender or race or nation. Perhaps, in each case, someone will believe you. And that is one reason why the way we often talk about these identities can be misleading

Hal tersebut membuat saya berpikir lebih jauh mengenai kekhawatiran manusia terhadap jati diri seseorang dengan identitasnya, yang sering kali dibandingkan dengan dirinya masing-masing. Manusia, dengan segala hal yang melekat pada dirinya, merupakan insan yang akan selalu membandingkan yang mana lebih baik dan lebih buruk. Itulah hakikat rasionalitas manusia dengan kalkulasinya; yang dari satu sisi merupakan sebuah anugerah, namun dari sisi lain dapat dilihat sebagai keburukan.

Dalam banyak hal, manusia selalu membandingkan satu dengan yang lain: baju mana yang lebih bagus, gadget mana yang lebih sempurna, yang mana lebih murah, dan lain sebagainya. Hal tersebut juga diterapkan dalam pandangan manusia melihat identitasnya. “Apakah aku secara value lebih baik daripada dirinya? apakah aku lebih berharga diri?”. Ketika manusia masuk ke dalam ranah tersebut dan mulai membandingkan identitas dirinya dengan diri orang lain, mereka berada dalam area yang abu-abu.

Mengapa abu-abu? Karena mereka dapat menjerumuskan diri mereka ke dalam berbagai hal nantinya. Mereka dapat masuk ke dalam keranjang superioritas, tatkala mereka merasa bahwa diri mereka dengan identitasnya lebih baik dan powerful dibandingkan dengan dirinya. Mereka juga masuk ke dalam baki inferioritas, dimana mereka merasa rendah diri ketika disandingkan dengan manusia yang mungkin dirasa lebih agung atau lebih tinggi derajatnya.

Mereka juga dapat tetap berada di area abu-abu tersebut; dimana mereka melihat karakteristik masing-masing identitas dan lebih memilih untuk merangkul perbedaan tersebut. Membuatnya lebih memiliki nilai, menyadari bahwa semakin banyak perbedaan yang dirangkul, semakin terbukalah perspektif kita terhadap dunia.

Saya memberi judul “Kejutan November” dan membahas mengenai identitas ini bukanlah tanpa alasan. Di bulan ini, kita akan melihat bagaimana perbedaan identitas antar-manusia akan diuji eksistensinya. Di tanggal 8 November 2016, Amerika Serikat akan melaksanakan Pemilu untuk memilih Presiden ke-45 mereka. Isu perbedaan identitas menjadi titik berat dalam Pemilu ini; dimana perbedaan identitas satu dilihat sebagai kunci pembeda visi-misi kandidat. Salah satu kandidat memiliki concern yang jelas; memprioritaskan warga kaukasia, menekan warga kulit warna dengan segala haknya di tingkat Negara Bagian dan Federal, mengobjektifikasi identitas gender tertentu, serta meminggirkan warga dengan identitas budaya tertentu dan menganggap mereka bukan “Amerika” yang asli. Kandidat yang lain, melihat perbedaan sebagai sebuah aset yang membentuk “Amerika” seutuhnya; Amerika yang beragam, penuh dengan janji dan impian, serta tempat kaum patriotik yang merangkul keberagaman.

Di Indonesia, Jakarta tepatnya, juga akan terjadi kejutan di bulan November ini. Demonstrasi besar-besaran disinyalir akan terjadi pada minggu pertama bulan November dengan target salah satu kandidat. Dengan identitas agama yang mereka bahwa, mereka disinyalir akan membuat kehebohan yang sangat beresiko untuk memecah belah persatuan Indonesia dengan identitas manusia yang beragam. Superioritas tersebut kemudian dijadikan dalih yang sahih, tanpa melihat gambaran Nusantara yang kaya, majemuk, dan saling menghargai.

Tidak ada yang tahu bagaimana kedua skenario itu akan berakhir; apakah kita akan melihat pengabadian identitas tertentu di Amerika? ataukah kita akan melihat Presiden perempuan pertama di negara adidaya tersebut? akankah ibukota menjadi tempat yang terinfiltrasi oleh tensi SARA yang keras? ataukah ibukota akan menjadi tempat dimana semua kemungkinan dan kesempatan yang baik dapat dirasakan oleh seluruh penduduknya. Itulah mengapa saya menyebutnya sebagai kejutan.

Saya akan menutup entri ini dengan mengingatkan anda kepada filosofi Hindu-Bali, Tri Hita Karana, Tiga jalan menuju Kebahagiaan. Salah satu filosofinya, Pawongan, mengajarkan kepada kita bahwa hubungan yang harmonis antar manusia dapat memberikan kita jalan akan penghargaan harga diri yang tinggi dan setara antar manusia. Yang mampu membuat kita tersadar bahwa identitas hanyalah pendefinisian superfisial kita semata, dan bukanlah inti dari diri kita sebagai insan ciptaanNya.

Kejutan November yang menegangkan.

 

01112016 1832

A

#human#identity#inferior#rational#superior

Comments

  1. Herma - November 1, 2016 @ 11:10

    Walaupun keduanya tidak akan berpengaruh secara langsung pada kehidupan saya, kayaknya tetep bikin deg-degan ya…

    • Adhi - November 1, 2016 @ 11:14

      keduanya secara nggak langsung berpengaruh; yg di US akan berpengaruh terhadap foreign policynya dan pivot mereka ke Asia, yang lagi satu jadi pelajaran dalam negeri untuk generasi mendatang

  2. Ary Susandi - November 1, 2016 @ 11:30

    Love love love this writing mbe.. The US case will bring a significant impact on our economy and many other kinds of partnership that we have had with them. And the capital capital city case potentially harming the entire nation and our future to live peacefully in diversity.

    And I like the way you end your writing by explaining the philosophy of Tri Hita Karana (pawongan).

    • Adhi - November 1, 2016 @ 11:41

      Thank you mbok. Kita sering lupa kalau perbedaan itu jadi bumbu yang sangat baik di kehidupan

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *